Advertisement

Warga Kompleks TNI OKS YON Angkub Blokir Jalan Cililitan & Bakar Ban

Posted by Rumah Kita on Rabu, 27 Januari 2010 , under | komentar (0)




Jakarta - Mendengar informasi aparat Kodam Jaya bergerak melakukan penggusuran, ratusan warga Kompleks TNI Eks Yon Angkub (Batalyon Angkutan Kuda Beban) langsung memblokir Jalan Cililitan Besar, Jakarta Timur. Kemacetan tidak terelakkan.


Pengamatan detikcom, Senin (25/1/2010), pemblokiran jalan dipicu oleh teriakan salah seorang warga yang menginformasikan 150 personel TNI AD dari Kodam Jaya tengah menuju ke lokasi.

Warga yang semula berada di dalam kompleks lalu bergegas menuju pintu utama dan langsung memblokir Jalan Cililitan Besar menggunakan batu, sampah, bambu dan material lain. Warga juga membakar ban bekas.

Warga terus berorasi menolak penggusuran itu. Kendaraan tampak memutar balik dan mengakibatkan arus lalu lintas dari perempatan Pusat Grosir Cililitan menuju Halim Perdanakusumah macet. Demikian pula arah sebaliknya.


Sumber Detiknews.com

Pengosongan Rumah Dinas TNI Komplek OKS YON Angkub dicurigai untuk dibuat Mal

Posted by Rumah Kita on , under | komentar (0)




JAKARTA - Pengosongan rumah dinas di Kompleks OKS Yon Angkub, Jalan Cililitan Besar, Jakarta Timur diduga memiliki kepentingan tertentu atau bahkan ada kerja sama dengan pihak swasta untuk membangun mal di lokasi tersebut.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Komisi I Hayono Isman di lokasi, usai melakukan kunjungan, Senin (25/1/2010).

Menurut Hayono, 66 rumah di Kompleks OKS itu merupakan rumah dinas. Namun predikat rumah dinas akan luntur jika negara tidak memelihara rumah itu.

“Rumah ini bisa dibeli oleh penghuninya, yang punya rumah, purnawirawan atau keturunannya. Tidak boleh kemudian dijadikan pangkalan seperti Halim dan itu sudah jadi harga mati. Saya khawatir ini kerja sama dengan pihak swasta untuk dijadikan mal atau kompleks perkantoran seperti yang ada di Bandung,” papar Hayono.

Lantas bagaimana jika pengosongan paksa ini tetap dilakukan prajurit TNI. “Saya akan datang atas nama pribadi dan Komisi I untuk menghadapinya,” tandas dia.

Pada kesempatan itu, Hayono membantah bahwa rekan-rekannya di Komisi I tidak membantu dan mendukung langkahnya membela warga, lantaran saat itu hanya dirinya yang datang ke lokasi.

“Kita bagi tugas. Kebetulan yang lain sedang rapat dengan PT Pindad dan PT Pal Surabaya. Mereka sudah titip salam ke warga melalui saya,” ucapnya.

Lebih lanjut Hayono menuturkan, pihaknya meminta secara resmi kepada TNI agar pengosongan rumah-rumah yang diklaim mereka sesegera mungkin diembargo atau dihentikan, sampai ada aturan yang adil. Baik bagi purnawirawan maupun prajurit yang aktif.

Warga sejak pukul 06.00 WIB tadi pagi, bersama dengan Forum Koordinasi Pengguna Rumah Negara (FKPRN) menggelar aksi memblokade jalan dengan menggunakan pohon, ban , dan sampah.


Sumber Okezone.com

Rumah Paspampres didalam Komplek Bulak Rantai??

Posted by Rumah Kita on Jumat, 22 Januari 2010 , under | komentar (0)




Baru-baru ini, Saya berbicara dengan teman saya untuk memberitahu masalah yang sedang terjadi di Komplek Bulak Rantai, yang kebetulan dia juga memiliki rumah di Bulak Rantai. Mendengar tentang situasi Bulak Rantai yang sedang memanas, Teman saya tenang-tenang saja seolah-olah eksekusi tidak akan menghampirinya padahal dia dan keluarganya dapat digolongkan kedalam keluarga Purnawirawan yg sewaktu-waktu bisa terkena eksekusi. saya kaget mendengar jawabannya, kalau Rumah teman saya tersebut merupakan Rumah/Tanah Paspampres. Lebih tepatnya 4 rumah didekatnya termasuk rumah teman saya tersebut merupakan Rumah/Tanah milik Paspampres. Kalo memang benar ada rumah paspampres, muncul pertanyaan dibenak saya, Apakah rumah paspampres yang sudah purnawirawan tidak akan dieksekusi?

Kodam Jaya: Belum Ada Rencana Pengosongan Rumah di Bulak Rantai

Posted by Rumah Kita on Kamis, 14 Januari 2010 , under | komentar (0)




Jakarta - Rencana pengosongan 9 rumah di komplek perumahan TNI AD Bulak Rantai, Kramat Jati, Jaktim batal. Kodam Jaya sendiri belum mengagendakan akan melakukan eksekusi hari ini.

"Tidak ada agenda pengosongan untuk waktu yang tidak dapat ditentukan," kata Kapendam Kodam Jaya Letkol Ruminta kepada detikcom melalui telepon, Sabtu (9/1/2010).

Menurut Ruminta, pihaknya tetap akan melaksanakan keputusan Kodam Jaya yang meminta agar warga mengosongkan rumahnya. Hal tersebut sesuai surat perintah pengosongan dan penyerahan rumah dinas Kodam Jaya dengan nomor B//2018/IX/2009 tertanggal 30 september 2009.

"Nanti kalau ada (pengosongan) saya beritahu," imbuhnya.

Pihak Kodam Jaya menilai, penghuni tidak memiliki hak untuk menempati rumah dinas TNI karena penghuni awal sudah purnawirawan atau tidak aktif. Sementara pengosongan dimaksudkan untuk ditempati perwira aktif yang belum mempunyai rumah dinas.

Sebelumnya, warga penghuni. Komplek perumahan TNI AD Bulak Rantai, Kelurahan Tengah, Kramat Jati menolak aksi pengosongan 9 rumah yang diperintahkan Kodam Jaya. Warga menilai Kodam Jaya tidak adil karena selama ini warga tidak pernah diberikan biaya perawatan hingga pemeliharaan rumah.

"Sudah 40 tahun kami di sini. Tanpa bantuan biaya pemeliharaan. Kita benahi sendiri rumah ini. Masak disuruh kosongin aja," kata Ketua RT 1 Bulak Rantai, Pungky.

Sejak tadi pagi, puluhan warga sudah siap-siap dan berjaga di sekitar komplek untuk menghadang apabila pengosongan dilakukan. Namun hingga sore hari eksekusi tak kunjung nampak.



  • detiknews.com
  • Contact

    Posted by Rumah Kita on , under | komentar (0)




    Contact :
    iprbr_jakarta@yahoo.com
    jacketmail7@yahoo.com
    unreal_seisto22@hackermail.com

    About us

    Posted by Rumah Kita on , under | komentar (0)




    Kami disini untuk memperjuangkan hak kami sebagai warga negara dan anak pejuang.

    RISALAH PERUMAHAN BULAK RANTAI ( d/h PERUMAHAN PASAR REBO)

    Posted by Rumah Kita on Selasa, 12 Januari 2010 , under | komentar (0)




    Tanah bulak Rantai ( Sebelumnya : Komplek Pasar Rebo) pada awalnya" dibebaskan" pada tahun 1964 oleh Kementrian SEKNEG untuk Resimen Cakrabirawa seluas 18,14 ha. Tanah tersebut secara bertahap dibangun dan dipergunakan untuk :

    1. Cakrabirawa 50 ( lima puluh) rumah tipe "K", luas tanah kurang lebih 400m2 per rumah, atap : asbes gelombang;ditempati mulai tahun 1966, dengan Surat Perintah DanMencakrabirawa no PRIN-025/1/1966 tanggal 14-1-1966

    2. Kopel MAKO MABAD 42 (Empat puluh dua) rumah tipe "G/120", luas tanah kurang lebih 400m2 per rumah, anggaran dari pemindahan hotel, ditempati sejak tahun 1968 dengan Surat Perintah WA-PANGAD no. PRIN 442/10/1968 Tanggal 1 Oktober 1968.

    3. Kopel MAKO MABAD 6 (enam) rumah tipe "G/120", luas tanah kurang lebih 500m2 per rumah, ditempati sejak tahun 1972.

    4. LAK BANG PUS KOKON 59 (lima puluh sembilan) rumah tipe "G/90", luas tanah kurang lebih 300m2 per rumah, ditempati sejak tahun 1974.

    5. Ruitslag dari BEK ANG 2 (dua) rumah tipe "H/60", luas tanah kurang 250m2 per rumah, ditempati sejak tahun 1976.

    6. Satgas POMAD 4 (empat) rumah tipe "H/60", luas tanah kurang lebih 250m2 per rumah, ditempati sejak 1978.

    7. PASWALPRES 4 (empat) rumah tipe "H/160", luas tanah kurang / lebih 200m2 per rumah, ditempati sejak tahun 1992.

    8. PASWALPRES 6 (enam) rumah tipe "H/60", luas tanah kurang lebih 250m2 per rumah, ditempati sejak tahun 1994 (sekitar 15 tahun).

    Catatan : Total Luas keseluruhan tanah yang dipakai untuk kompleks Bulak Rantai berikut sarana dan prasarana (Jalan, jalur hijau, fasilitas pendidikan, olahraga dan mesjid) adalah -/+ 10 ha. Dari luas semula -/+ 18 ha, saat ini ada sekitar 8 ha lahan tanah Bulak Rantai yang hilang karena dikuasi oleh masyarakat / penduduk sekitar, bahkan sudah ber-sertifikat.

    Sejak saat pertama menempati rumah di Komplek Bulak Rantai ini (selama 44 tahun yang terlama dan 15 tahun yang terbaru) dari TNI-AD warga tidak pernah mendapatkan fasilitas pengadaan / pembangunan, pemeliharaan maupun perbaikan, antara lain : atap asbes-gelombang yang hancur karena dimakan usia maupun akibat beberapa kali terkena terjangan angin puting beliung; rangka-rangka utama penyangga atap serta kusen pintu / jendela yang dimakan rayap; renovasi besar pada bagian-bagian dinding yang ambruk akibat pondasi amblas karena penurunan tnaah dan bagian-bagian lain dari rumah yang mau tidak mau harus diperbaiki karena bisa mengancam keselamatan jiwa warga / penghuni.
    Pengadaan serta Pembayaran Saran Listrik (PLN) dan Air Minum (PDAM) juga dibayar oleh warga sendiri termasuk pengadaan saluran telepon.
    Catatan : Pada saat pertama menempati rumah di Komplek Bulak-Rantai (Komplek Pasar Rebo) belum ada aliran lisrik dan air (hanya tersedia sumur pompa dragon).

    Pembangunan dan pengadaan sarana maupun prasarana dilingkungan Perumahaan Bulak Rantai ini antara lain : Perbaikan / Peningkatan dan pengaspalan jalan, Penerangan jalan umum, Pembuatan Saluran Drainage, Sekolah yang terdiri dari TK, SD dan SMP; Mesjid, Pos Keamanan beserta tenaga petugas keamanaan / HANSIP, Lapangan Sepak Bola, Lapangan Tenis, Lapangan Volley, Lapangan Basket , dan Pertamanan/ Keindahaann Lingkungan adalah atas prakarsa dan usaha warga sendiri yakni berupa dana yang dikumpulkan dari warga (Swadaya serta Swakelola), sumbangan donatur pribadi serta bantuan pembangunan / pengadaan / pemeliharaan dari PEMDA DKI Jakarta; bukan dari Pihak TNI-AD.

    DRAMA KOMODO MELAHAP BAYI NYA

    Posted by Rumah Kita on , under | komentar (0)




    Komitmen DPR RI (selaku wakil rakyat); Panglima TNI dan Menteri Pertahanan telah bulat yaitu mereform TNI agar menjadikan TNI yang tangguh, Profesional, bermoral tinggi yang didasarkan pada iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga TNI sanggup melaksanakan TUPOKSI nya secara paripurna.

    Meluluskan anggaran TNI '10 yang meledak sampai 42 triliun bukan tiba-tiba turun dari langin tetapi wujud nyata dari komitmen DPR tersebut. Harapan rakyat adalah : "Panglima TNI dan Menteri Pertahanan harus secara konsikuen melaksanakan commitmentnya donk".
    Keluarga besar TNI sangat kecewa dengan tindakan oknum tertentu yang menjawab komitmen tersebut dengan penggusuran kejam teradap anak-anak yatim piatu yang sekarang sedang ngetrend dan marak ini. Drama bulan lalu yang sangat MEMALUKAN adalah buaya melawan cicak. Keluarga besar TNI berharap di ranah ini tidak ada Drama tandingan KOMODO MELAHAP BAYI NYA. TNI bukan Komodo yang kalau lapar tega melahap bayi nya sendiri. TNI tetap Garuda Sakti yang harga diri, selalu setia janji , membela ibu pertiwi sampai mati, mempertahankan negara dan selalu melindungi segenap rakyatnya di negri sendiri.

    Sudah tiba saatnya kita secara bersama-sama serentak bersatu padu membersihkan oknum-oknum di TNI yang munafik, penindas rakyat, berkelakuan Dholim, yang selalu mengatas namakan KETERTIBAN, padahal dibalik itu semua mereka tidak lebih sebagai CALUK TANAH SERAKAH dari INVESTOR KEJAM dan KIKIR yang tega mengorbankan keluarga besarnya yang kurang berntung tanpa belas kasiha, mengusir dari rumah mereka tanpa KEROHIMAN SEPESERPUN semata-mata demi keuntungan pribadi yang berlipat-lipat-lipat-lipat ganda.